Wednesday, November 16, 2011

My Sweet 19th Birthday



First B'day Cake :D

@Pizza Hut MW
Cut the cake

Wif Freyo'Leex

Feeling Happy

Make a WISH

USU's Friends

91st O_o


@PIA

My Lovely A9

I'm curious to this (read more)...

Friday, June 3, 2011

Salahkah siswa membawa ponsel ke sekolah?

Akhir-akhir ini saya mendengar banyak keluhan dari teman-teman yang masih sekolah bahwa mereka tidak diizinkan membawa ponsel ke sekolah. Reaksi saya, "HAH? Masa? Untung aku duluan tamat" XD
Menurut saya ini salah satu hal yang sangat disayangkan. Padahal sekolah bisa memanfaatkan teknologi canggih ini. Apalagi sejak munculnya Blackberry di kalangan masyarakat yang sangat membludak. 

Blackberry, Android, Iphone?
Begitu canggihnya teknologi yang ada di dunia ini, yang sangat saya sayangkan adalah mengapa sekolah-sekolah yang melarang muridnya membawa ponsel ke sekolah hanya melihat sisi negatifnya dan bukan melihat sisi positifnya? Alasan umum yang dilontarkan sekolah yang melarang muridnya membawa ponsel ke sekolah adalah bahwa murid tidak bisa berkonsentrasi belajar, murid akan menyalahgunakan ponsel untuk melihat video atau gambar-gambar porno. 
Lalu mengapa sekolah tidak mengalihkan pikiran siswa-siswinya dengan memperkenalkan atau memaksimalkan teknologi ini canggih ini untuk hal-hal yang berguna yang menunjang pelajaran? Sekolah bisa mendidik dan membimbing siswa-siswinya dengan teknologi canggih ini ke arah yang positif. Bagaimana supaya ketika mereka melihat sebuah ponsel, pikirannya adalah untuk memaksimalkannya dan buka malah untuk hal-hal negatif. 
Masalah mengganggu pelajaran, seharusnya dilakukan oleh guru. Gurulah yang memberikan peraturan kepada siswanya bahwa dalam pelajarannya boleh atau tidak menggunakan ponsel. Ponsel hanya boleh diaktifkan pada mata pelajaran yang memerlukan ponsel dalam proses pembelajaran. Menjelaskan kepada siswa-siswi norma-norma penggunaan ponsel adalah lebih tepat daripada melarang membawa ponsel ke sekolah, kapan ponsel boleh diaktifkan dan kapan ponsel harus di-non-aktifkan,seperti ketika berada dalam pesawat terbang, dalam rapat, dll. Guru BP yang bertugas juga bisa melakukan razia pada isi ponsel siswa secara tiba-tiba, menyita ponsel yang ketahuan aktif tidak pada saatnya, dan masih banyak lagi alternatif untuk mengatasi siswa-siswi yang menyalahgunakan peran ponsel.

Terlebih lagi, fungsi paling mendasar dari ponsel adalah untuk berkomunikasi. Ketika anak didampingi oleh sebuah ponsel, maka orang tua akan dengan mudah menghubungi dan mengetahui keberadaanya setiap waktu. Orang tua tidak perlu khawatir apabila anak pulang terlambat, hanya butuh beberapa menit, orang tua sudah bisa mengetahui posisi anak. Ada sekolah yang melarang siswa membawa ponsel mengatakan untuk menghubungi siswa bisa melalui sekolah. Lalu bagaimana ketika anak sedang dalam perjalanan pulang, apalagi yang rumahnya berjarak cukup jauh dengan sekolah.

Jadi, menurut pendapat saya ponsel tidak boleh dilarang dibawa ke sekolah. Sekian! :)

Refrensi :
http://pangandaraninfo.com/2010/11/05/pengaruh-membawa-hp-di-sekolah/
http://www.radartasikmalaya.com/index.php?option=com_content&view=article&id=9946:pro-kontra-bawa-hp-ke-sekolah&catid=94:pendidikan&Itemid=45 I'm curious to this (read more)...

Tuesday, May 17, 2011

Keefektifan Metode Teacher-Centered dalam Pelajaran Matematika Terhadap Pemahaman Siswa-Siswi SMA Harapan Mandiri Jurusan IPS

PERENCANAAN

Pendahuluan
Pada kesempatan yang kami dapatkan, topik yang kami pilih adalah "Dinamika mengajar pada guru profesional" dengan judul "Keefektifan Metode Teacher-Centered dalam Pelajaran Matematika Terhadap Pemahaman Siswa-Siswi SMA Harapan Mandiri Jurusan IPS". Judul ini dibentuk berdasarkan fenomena yang telah terjadi di sekolah-sekolah kota Medan, bahwa  kebanyakan sekolah-sekolah tingkat SMA menggunakan metode pengajaran teacher-centered. Dalam penyampaian materi pelajaran, materi disampaikan dengan beragam cara dan berbeda-beda pada setiap guru. Cara penyampaian kepada siswa-siswi ini sebagai penentu apakah materi kemudian dapat dipahami dengan baik atau tidak. Penyampaian ini tentunya dapat dinilai oleh siswa-siswi, apakah materi disampaikan guru dengan baik atau tidak baik, paham atau tidak paham. Dan kesempatan kali ini, keefektifan metode teacher-centered terhadap pemahaman siswa-siswa SMA akan kami teliti.

Landasan Teori
Sekolah merupakan suatu lembaga formal yang berfungsi membantu khususnya orang tua dalam memberikan pendidikan kepada anak-anak mereka. Anak-anak diajarkan tata krama, diberi pengetahuan, dan diasah kemampuan serta keterampilan mereka agar mereka nantinya memiliki modal yang cukup saat berada dan bekerja dalam masyarakat. Guru-guru yang berbeda ada di setiap sekolah, dengan metode-metode belajar yang berbeda-beda pula. Berdasarkan teori psikologi pendidikan, ada dua metode pengajaran yang digunakan guru, yaitu:
  • Teacher-Centered
Teacher-centered learning adalah suatu sistem pembelajaran dimana pengajar menjadi pusat dari kegiatan belajar mengajar sehingga terjadi komunikasi satu arah. Di sini ilmu di transfer secara cepat dari pengajar kepada pelajar sehingga daya serap dari mahasiswa lemah karena dosen hanya memberi materi.
  • Learner-Centered
Learner-Centered Learning lebih merupakan pembelajaran yang berpusat pada pelajar. Pelaksanaan metode pembelajaran ini diarahkan pada integrasi knowledge management system sehingga diharapkan menghasilkan intellectual capital yang bermanfaat. Dengan metode pembelajaran ini, pelajar bukan lagi sebagai obyek dari pengembangan ilmu pengetahuan namun diharapkan menjadi pelaku aktif dari pengisi konteks di dalam proses pembelajaran. Pengajar hanya berperan sebagai fasilitator dan motivator.
Kedua metode ini memiliki keunggulan, kelemahan, dan ciri khususnya masing-masing. Metode-metode ini tentunya memberikan pengaruh yang berbeda bagi anak-anak ataupun siswa-siswi yang menuntut ilmu di sekolahnya. Pengajar memainkan peranan penting karena bisa saja suatu sekolah menggunakan kedua metode tersebut tergantung pada guru yang memberikan atau mengajarkan materi tersebut. Pengajar dituntut untuk mampu menguasai kurikulum, menguasai materi dan metode. Pengajar juga harus dapat mengontrol kelas agar pengetahuan atau ilmu yang didapatkan maksimal.

Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang akan kami gunakan adalah:
  • Kuesioner
  • Alat-alat tulis
  • Kamera
Analisis Data
Kuesioner dibagikan kepada murid-murid dengan dua kelas yang berbeda dan diisi, kemudian kami kategorisasikan kuesioner yang termasuk kategori efektif, tidak efektif, dan tidak kedua-duanya. Setelah dikategorisasi, kuesioner kemudian dihitung jumlahnya. Jika kedua kelas dengan kuesioner yang kategorinya efektif lebih banyak daripada tidak efektif, maka kesimpulannya adalah metode teacher-centered efektif dalam pengajaran matematika. Dan sebaliknya, jika kedua kelas dengan kuesioner yang kategorinya efektif lebih sedikit daripada tidak efektif, maka kesimpulannya adalah metode teacher-centered tidak efektif dalam pengajaran matematika. Apabila kelas pertama dengan kuesioner yang kategorinya efektif lebih banyak dan kelas kedua dengan kuesioner yang kategorinya efektif lebih sedikit dan sebaliknya, maka metode teacher-centered tidak mempengaruhi pemahaman siswa, tetapi cara pengajaran guru yang harus diteliti kembali.

Objek atau Subjek
Subjek yang kami teliti adalah dua kelas siswa - siswi jurusan IPS yang bersekolah di Sekolah Harapan Mandiri, SMA Methodist-2, SMA Sutomo 1, dan SMA Sutomo 2. Tetapi hanya satu sekolah yang kami pilih, melihat apakah izin diberikan sekolah kepada kita untuk melakukan penelitian.

Jadwal Pelaksanaan

Kalkulasi Biaya
Biaya yang diperkirakan untuk menjalankan penelitian ini adalah:
  • 100 buah fotokopi kuesioner timbal balik @ Rp. 100,-  =  Rp. 20.000,-
  • 100 buah snack @ Rp.500,-  =  Rp. 50.000,-
  • Total biaya yang dikeluarkan = Rp. 70.000,-
PELAKSANAAN
Pada pelaksanaan penelitian ini, kami awalnya berkumpul di lokasi tujuan penelitian, yaitu sekolah Harapan Mandiri, Jl. Brigjend. Katamso, Medan, yang berlangsung pada tanggal 7 Mei 2011, pukul 08.30. Kemudian, setelah mendapat izin masuk dari guru BP, kelas yang menjadi subjek eksperimen kami masuki. Penjelasan mengenai penelitian dan cara pengisian kuesioner kami jelaskan dengan detail. Pengisian kuesioner dimulai, dan kemudian dikembalikan kepada kami, serta reward yang berupa makanan ringan kami bagikan pada siswa-siswi SMA Swasta Harapan Mandiri Medan.
Proses penelitian ini dilanjutkan di satu kelas lainnya dengan prosedur yang sama. Pada pukul 09.20, pengambilan data untuk penelitian selesai. Kemudian kuesioner kami kategorisasikan menjadi tiga bagian. Setelah hasil dari penelitian kami dapatkan, penelitian tersebut kami diskusikan kembali dan terakhir, kesimpulan terbentuk.

PELAPORAN DAN EVALUASI

Laporan
Dari 66 sampel dengan kelas pertama berjumlah 31 siswa dan kelas kedua berjumlah 35 siswa, diperoleh hasil berupa:
1. Kelas XI IPS 3 (kelas pertama)
  • Siswa yang setuju berjumlah 14 siswa
  • Siswa yang tidak setuju berjumlah 7 siswa
  • Siswa yang netral berjumlah 10 siswa
2. Kelas XI IPS 1 (kelas kedua)
  • Siswa yang setuju berjumlah 11 siswa
  • Siswa yang tidak setuju berjumlah 18 siswa
  • Siswa yang netral berjumlah 6 siswa
Dari data yang telah diperoleh, dapat ditarik kesimpulan bahwa metode teacher-centered tidak mempengaruhi pemahaman siswa, tetapi cara pengajaran guru yang harus diteliti kembali.

Poster


Evaluasi
Sebenarnya, pembuatan tugas mini proyek ini seharusnya dimulai pada bulan Februari. Namun, tugas selalu kami tunda, sehingga terjadi penyimpangan antara perencanaan dengan pelaksanaan. Pembuatan perencanaan dan proses pelaksanaan berbeda, yaitu dari membuat membuat kuesioner hingga pelaksanaan penelitian. Kuesioner kami buat pada minggu pertama dari bulan Mei, sama seperti penentuan sekolah dan meminta surat izin. Pada perencanaan, surat izin ingin kami kirim tidak pada saat yang bersamaan pada pelaksanaan penelitian, namun akhirnya surat izin kami kasih pada saat yang bersamaan dengan pelaksanaan penelitian. Biaya pengeluaran pun terjadi penyimpangan dari perkiraan. Biaya fotokopi mencapai Rp. 40.000,-, tetapi biaya untuk reward adalah Rp. 49.000,-, dibawah biaya perkiraan.

Testimoni
Kelompok : Ada kesalahan yang kami buat, tetapi untung Bu Dina mau membantu kami menyelesaikan kesalahan ini. Sangat menguras waktu dan tenaga, tetapi dengan bantuan sesama anggota kelompok, semua menjadi lebih mudah dan menyenangkan. Jangan terlalu sering menunda tugas, supaya semua berjalan lancar dan tidak terburu-buru.
Jilly : Selama pengerjaan penelitian ini, saya menjadi lebih tahu adanya hubungan antara metode pengajaran dengan pemahaman siswa. Selain itu, saya juga menjadi lebih mengenal dan mengetahui karakter dari teman kelompok, sehingga dapat belajar sesuatu yang sebelumnya tidak saya dapatkan sama sekali.
Dede : Yang pasti, membuat penelitian itu menyenangkan. Namun tidak mudah untuk melakukan penelitian, perlu kerja keras yang tinggi. Kesabaran sangat diperlukan dalam membuat tugas kelompok.
Veronica : Ternyata membuat suatu penelitian itu menyenangkan. Dari yang tidak tahu apa-apa, jadi tahu. Rasa ingin tahu dengan masalah penelitian kami membuat saya jadi semangat untuk melakukan penelitian sampai akhirnya selesai juga.
Venti : Penelitian itu tidak gampang, usaha sangat diperlukan dalam melakukan sebuah penelitian. Tetapi, ini akan menjadi pengalaman yang berharga.

Dokumentasi
Daftar Pustaka
Santrock., J.W. (2008). Psikologi Pendidikan (edisi kedua). Jakarta: Prenada Media Group
I'm curious to this (read more)...

Monday, May 16, 2011

Saran Mengelola Bentuk-Bentuk Penyajian Informasi kepada Orang Dewasa

Beberapa saran dapat membantu pemrosesan informasi dan menambah efisiensi antara lain :

  1. Proyek Penerapan, membuat kontrak akan hal-hal yang akan dipelajari oleh para peseta
  2. Katalog dan Kepustakaan, kepustakaan yang dimaksud tidak hanya berupa buku-buku, tetapi termasuk juga film, microfiche, surat kabar, artikel, dll 
  3. Program membaca artikel atau Literatur
  4. Buku
  5. Studi kasus
  6. Belajar melalui media komputer, menyadari adanya perkembangan teknologi yang begitu pesat khususnya dalam bidang telekomunikasi yaitu internet.
  7. Mendengarkan rekaman suara
  8. Film dan Video
  9. Demostrasi atau peragaan
  10. Diskusi
  11. Permainan
  12. Direkam
  13. Analisis dan instropeksi diri
 Refrensi :
Sukadji, S. (2000). Psikologi pendidikan dan psikologi sekolah. Depok: Lembaga Pengambangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3) Fakultas Psikologi Universitas Indonesia I'm curious to this (read more)...

Pentingnya Bimbingan di Sekolah Dasar

Program bimbingan di Sekolah Dasar yang terorganisasi sama pentingnya dengan program bimbingan di Sekolah Lanjutan.Bimbingan yang diberikan sejak kontak pertama anak dengan sekolah sudah harus terorganisir dengan baik sampai anak mendapat tempat dalam lapangan kerja atau ke pendidikan lanjutan. Pemahaman mengenai diri sendiri sangat perlu sejak usia dini agar anak dapat menyesuaikan diri dengan berbagai situasi baru, memecahkan masalah yang dihadapi di kemudian hari. 
Bimbingan tidak lagi berdasarkan pada konsep meyediakan pelayanan untuk menanggulangi krisis, tetapi berdasarkan pada konsep perkembangan yang berkesinambungan. Pendekatan ini menekankan pada pentingnya prevensi dan kesehatan mental. Oleh karena itu, bimbingan perlu diorganisir dengan baik sejak anak usia dini.
Tujuan utama bimbingan di TK (Taman Kanak-kanak) adalah proses perubahan dari kanak-kanak sebagai makhluk individu yang menonjol keunikannya, menjadi makhluk sosial, dengan jalan optimal perkembangan penyesuaian pribadi dan sosial yang memadai.
Tujuan utama bimbingan di SD (Sekolah Dasar) adalah membantu anak :
  1. Menguasai bahan ajaran tuntunan kurikuler
  2. Membuat pilihan dan menentukan bahan ajar yang cocok
  3. Memiliki sikap-pandangan belajar yang mendukung
  4. Mempunyai pola perilaku belajar yang mendukung
  5. Memilih teman gaul dan membentuk kelompok-kelompok belajar yang serasi
  6. Mengadakan penyesuaian hidup berkelompok yang menunjang belajar
  7. Memecahkan masalah-masalah belajar yang dihadapi murid.
Refrensi :
Sukadji, S. (2000). Psikologi pendidikan dan psikologi sekolah. Depok: Lembaga Pengambangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3) Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
http://www.anneahira.com/artikel-pendidikan/pendidikan-sekolah.htm I'm curious to this (read more)...

Monday, April 25, 2011

Perbedaan psikologi sekolah dan psikologi pendidikan

Psikologi sekolah adalah salah satu bagian dari psikologi pendidikan. Sesuai dengan namanya 'Pendidikan', bisa berupa pendidikan formal, pendidikan informal, dan pendidikan non formal. Sedangkan 'Sekolah' merupakan sebuah instansi sekolah.

Psikologi sekolah berusaha menciptakan situasi yang mendukung bagi anak didik dalam mengembangkan kemampuan akademik, sosialisasi, dan emosi. Yang bertujuan untuk membentuk mind-set anak.
Psikologi pendidikan lebih kepada bagaimana manusia belajar dalam setting pendidikan, keefektifan sebuah pengajaran, cara mengajar, dan pengelolaan organisasi sekolah. Psikologi pendidikan adalah perkembangan dari psikologi perkembangan dan psikologi sosial, sehingga teori yang digunakan sebagian besar adalah teori psikologi perkembangan dan psikologi sosial. Psikologi pendidikan menyelidiki masalah psikologis yang terjadi dalam dunia pendidikan.


               

I'm curious to this (read more)...

Wednesday, April 6, 2011

Tiga Fenomena Dengan Pembahasannya

Kelompok 19 :
  1. Jilly Chandra ( 10-022 )
  2. Veronica ( 10-026 )
  3. Venti Ayu Wibawa ( 10-070 )
  4. Dede Suhendri ( 10-078 )
Tiga fenomena yang kami bahas adalah:
  1. Fenomena Tawuran Antar Pelajar
  2. Kasus Perilaku Pelanggaran Disiplin Siswa di Sekolah
  3. Fenomena Kekerasan di Lembaga Pendidikan
Fenomena 1
Pada artikel ini, diceritakan bahwa perkelahian antar pelajar yang umumnya remaja sangat merugikan baik bagi pelajar maupun orang berada di sekitar lokasi tawuran. Hal ini terjadi hanya karena hal sepele, yaitu dicetaknya gol oleh pemain X yang tidak disenangin 1 suporter yang mendukung tim Y.

Teori Psikologi Pendidikan
Teori konstruktivisme  adalah pendekatan untuk pembelajaran yang menekankan bahwa individu akan belajar dengan baik apabila mereka secara aktif mengkonstruksi pengetahuan dan pemahaman. Supporter yang tidak senang tidak memahami proses ini. Dia tidak senang tim yang dia dukung kalah, sehingga menjadi dendam, Padahal di setiap pertandingan harus ada yang menang dan yang kalah. Dengan kata lain, supporter tidak memahami dengan pasti apa yang harus dan tidak harus dilakukannya.

Teori Pendidikan Keluarga
Berdasarkan teori pendidikan keluarga, supporter mungkin tidak dibina dengan baik dari kecil. Orang tua dalam keluarga harus bisa menciptakan suasana keluarga yang damai dan tentram dan mencurahkan kasih sayang yang penuh terhadap anak-anaknya, meluangkan waktunya untuk sering berkumpul dengan keluarga, mengawasi proses-proses pendidikan anak dan melakukan tugas masing-masing ayah dan ibu. Kurangnya keenam hal ini dapat menyebabkan penyimpangan pada anak, seperti dendam yang dialami supporter tersebut.

Teori Bimbingan sekolah
Salah satu teori gestalt adalah Perilaku bertujuan (pusposive behavior). Artinya bahwa perilaku terarah pada tujuan. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Oleh karena itu, guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya. Supporter membuat perilaku tawuran agar orang lain dapat mengalah, sehingga tim yang didukung supporter menang.

Fenomena 2
Yang menjadi subjek dalam pembahasan atau analisis permasalahan ini adalah siswa yang sering melakukan pelanggaran disiplin sekolah. Selanjutnya jika dikaji dari data tentang siswa yang sering melakukan pelanggaran sekolah, ternyata dikemukakan bahwa umumnya siswa yang sering membolos sekolah juga melakukan pelanggaran disiplin lain, misalnya sering terlambat datang ke sekolah, meninggalkan kelas atau sekolah sebelum waktunya, suka mengganggu teman, sering melalaikan tugas sekolah, dan berpakaian tidak rapi.

Teori Psikologi Pendidikan
Berdasarkan teori psikologi pendidikan, selain peranan motivasi, manajemen kelas yang efektif akan memaksimalkan kesempatan belajar murid. Kelas adalah multidimensional, sebuah seting untuk banyak aktivitas. Kurangnya manajemen kelas dapat menyebabkan murid malas belajar, bosan dan melakukan hal-hal lain.

Teori Pendidikan Keluarga
Pendidikan dalam keluarga merupakan pendidikan awal bagi anak karena pertama kalinya mereka mengenal dunia terlahir dalam lingkungan keluarga dan dididik oleh orang tua. Sehingga pengalaman masa anak-anak merupakan faktor yang sangat penting bagi perkembangan selanjutnya, keteladanan orang tua dalam tindakan sehari-hari akan menjadi wahana pendidikan moral bagi anak, membentuk anak sebagai makhluk sosial, religius, untuk menciptakan kondisi yang dapat menumbuh kembangkan inisiatif dan kreativitas anak. Orang tua yang buruk akan menghasilkan perilaku anak yang buruk pula.

Teori Bimbingan Sekolah
Berdasarkan teori Gestalt, pembelajaran yang bermakna (meaningful learning) adalah kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Pembelajaran yang bermakna akan membuat murid tidak cepat bosan, dan tidak melakukan hal lain pada waktu pembelajaran berlangsung.

Fenomena 3
Secara umum, kekerasan dapat diartikan sebagai suatu tindakan yang tidak menyenangkan atau merugikan orang lain, baik secara fisik (pemukulan menggunakan tangan atau alat, penamparan, dan tendangan) maupun psikis (mengejek atau menghina, mengintimidasi, menunjukkan sikap atau ekspresi tidak senang, dan tindakan atau ucapan yang melukai perasaan orang lain). Kekerasan tidak hanya berbentuk eksploitasi fisik semata, tetapi justru kekerasan psikislah yang perlu diwaspadai karena akan menimbulkan efek traumatis yang cukup lama bagi si korban. Dewasa ini, tindakan kekerasan dalam pendidikan sering dikenal dengan istilah bullying.

Pada kenyataannya, praktik bullying ini dapat dilakukan oleh siapa saja, baik oleh teman sekelas, kakak kelas ke adik kelas, maupun bahkan seorang guru terhadap muridnya. Terlepas dari alasan apa yang melatarbelakangi tindakan tersebut dilakukan, tetap saja praktik bullying tidak bisa dibenarkan, terlebih lagi apabila terjadi di lingkungan sekolah.

Teori Psikologi Pendidikan
(Behaviorisme)Teori perkembangan perilaku, yang dapat diukur, diamati dan dihasilkan oleh respons pelajar terhadap rangsangan. Tanggapan terhadap rangsangan dapat diperkuat dengan umpan balik positif atau negatif terhadap perilaku kondisi yang diinginkan. Hukuman kadang-kadang digunakan dalam menghilangkan atau mengurangi tindakan tidak benar, diikuti dengan menjelaskan tindakan yang diinginkan. Sedangkan pada kasus diatas, perlakuan yang diberikan oleh senior kepada juniornya, malah merangsang junior belajar untuk melakukan hal yang sama. INi adalah suatu pembelajaran, pembelajaran ke arah negatif karena ia merasa perlakuan ini adalah warisan turun temurun sehingga merupakan perlakuan yang harus dilakukan.

Teori Pendidikan Keluarga
Berdasarkan teori pendidikan keluarga, kekerasan yang dilakukan oleh pelajar pada teman-temannya, juga merupakan suatu perilaku merupakan efek dari lingkungan keluarganya. Perhatian yang kurang dari orang tua juga adalah salah satu faktor yang mengakibatkan pelajaran melakukan hal-hal kasar di lingkungan tempat dia berada, tujuannya untuk menarik perhatian orang sehingga ia akan merasa diperhatikan oleh orang sekitarnya. Selain itu, perlakuan kasar juga dapat berasal dari perlakuan yang ia terima di rumah, sehingga pelajar tersebut merasa bahwa perlakuan kasar merupakan suatu hal yang wajar.

Teori Bimbingan Sekolah
Pengalaman tilikan (insight); bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. Dalam proses pembelajaran, hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa. Disini, pelajar salah atau gagal menerapkan prinsip insight ini, sehingga anggapan atau persepsi mereka tentang perlakuan kasar tersebut tidak sesuai dengan yang ada dimasyarakat. Seperti yang dilakukan pelajar tersebut, mereka melakukan kekerasan pada temannya, karena mereka telah salah mengaitkan perilaku yang kasar tersebut dengan kondisi saat ia melakukannya.

Kasus:

Referensi:
Santrock., J.W. (2008). Psikologi Pendidikan (edisi kedua). Jakarta: Prenada Media Group
I'm curious to this (read more)...

Saturday, March 12, 2011

Exploring Indonesia

Nah...Akhirnya selesai juga karyaku yang 1 ini.. Hilanglah semua rasa capek-capeknya proses membuat video ini mulai dari munculnya ide ini, proses pemngumpulan bahan, dan lain-lain dan... yang paling menguji kesabaranku dalam proses pembuatan video ini adalah softwarenya yang asik error, jadi saya harus restart terus (lebih kurang 20 kali sampai video ini selesai dibuat). Tapi begitu berhasil sampai tahap save video ini... PLUNGG!! semua rasa capek itu hilang.. Tapi percayalah kalau lagi seru-serunya, lagi semangat-semangatnya mengerjakan sesuatu, bisa sampai lupa makan dan mandi.. (ups.. ketauan deh belum mandi.. XD) okee sekian dulu cuap-cuap tak jelas ini.. Kembali... ke lap...? TOP!
Mengapa saya membuat video ini?
Salah satu alasan saya membuat video ini adalah supaya orang lain yang belum mengenal Indonesia (terutama sumber daya alam yang ada di Indonesia), bisa mengenal tempat-tempat istimewa di Indonesia yang walaupun tentunya tidak bisa saya perkenalkan semua.. But at least, saya sudah berusaha semaksimal mungkin bagaimana supaya orang-orang tertarik untuk melihat video ini.
Ada yang perhatikan tidak kalau tulisan-tulisan yang saya muat di video saya semua bahasa Inggris? :)
Alasan saya menggunakan bahasa Inggris, supaya orang asing (eh, kejauan deh harapannya, tapi ini memang benar harapan saya, orang-orang di seluruh dunia bisa memanfaatkan video ini...hehe) bisa mengerti. 
Mengapa bahasa Inggris, bukan bahasa lain...?
Bahasa lain apa coba yang banyak dimengerti oleh orang-orang di dunia?.. Nah.. Nah.. tidak ada kan??? :)
Akhir kata, saya sangat berterima kasih kepada Ibu Filia Dina Anggraeni selaku dosen pengampuh mata kuliah psikologi pendidikan, yang telah memberi kesempatan untuk mengasah kekreatifan kita. Maksudnya, kalau bukan karena ini tugas juga saya tidak kepikiran bisa membuat sesuatu seperti ini. Hehe Semoga bakal ada lagi sesuatu yang lebih kreatif lagi yang bisa saya munculkan setelah ini.
Oiya, tidak lupa juga, saya memerlukan komen-komen para pembaca sekalian terhadap karyaku. Terima kasih.
I'm curious to this (read more)...

Wednesday, March 2, 2011

E-Learning dan Learner-Centered

Veronica (10-026)

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari dikti.go.id, peserta didik di zaman informasi ini mempunyai kecenderungan gaya belajar aktif, sequential, sensing, dan visual (Felder dan Soloman, 1993). Generasi muda sekarang sudah mempunyai istilah baru, yaitu "Generasi Z", yaitu generasi yang sudah mahir menggunakan teknologi zaman ini. Kita, sebagai generasi Z ini, harus menggunakan proses learner centered daripada teacher centered yang biasa digunakan di masa sekolah. Untuk menggunakan proses pembelajaran seperti ini, harus ada sebuah penyesuaian, sehingga peserta didik dapat mengikuti pembelajaran dengan baik. Perlunya penyesuaian karena metode pembelajaran teacher-centered berbeda dengan learner-centered. Peserta didik dituntut untuk lebih aktif pada proses pembelajaran, sedangkan pembimbing hanyalah menjadi mediator. Proses pembelajaran ini seharusnya telah diterapkan semasa di sekolah, tepatnya pada SMA, sehingga siswa maupun mahasiswa siap untuk terjun ke lapangan kerja.

E-learning merupakan salah satu learner centered. Bayangkan kalau e-learning merupakan teacher-centered, maka pembimbing akan ceramah, sedangkan kita tidak tahu apakah peserta didik mengikuti pembelajaran atau tidak. Jadi, learner centered membuat peserta didik tidak akan bosan karena hanya duduk mendengarkan/membaca penjelasan guru di dalam kelas.
I'm curious to this (read more)...

Friday, February 18, 2011

Testimoni Geng Upin & Ipin

Upin & Ipin adalah salah satu film animasi 3D yang beredar di Indonesia. Upin & Ipin cukup terkenal, sebab di Indonesia sendiri sudah sangat jarang ada film anak-anak yang 'sesuai' untuk anak-anak, yang memiliki cerita mendidik, bahkan ada yang menampilkan adegan kekerasan. Upin & Ipin cocok untuk ditonton oleh semua kalangan termasuk orang tua, remaja, apalagi anak-anak. Film ini menampilkan karakter-karakter yang berbeda latar belakang baik ras (ada orang Melayu, Indonesia, India, dan China) maupun agama, namun mereka bisa berbaur.Selain itu, juga mengajarkan kepada anak-anak bahwa mereka harus menghargai dan menghormati orang yang lebih tua, terutama orang yang merawat, menjaga, dan mendidik mereka, contohnya Upin & Ipin yang sejak kecil telah ditinggalkan oleh orangtua, sehingga mereka dibesarkan oleh kakak dan nenek mereka. Dalam film ini juga kita bisa belajar bagaimana memandang suatu masalah, bagaimana menghadapinya dan juga bagaimana cara mengatasinya dengan solusi terbaik. Dan saya rasa ini sangat cocok buat anak-anak, apalagi film ini diperankan oleh anak-anak jadi anak-anak lebih gampang memahami jalan ceritanya. Jalan cerita film ini memang sengaja dibuat sesederhana mungkin dan menceritkan kehidupan sehari-hari agar orang penonton mudah memahaminya.
Dan tahukah Anda, ternyata film yang berdurasi lebih kurang 90 menit ini dibuat selama lebih kurang 2 tahun. Mengapa demikian? Proses pembuatan film ini  cukup panjang dimana animasi dalam film ini cukup kompleks mulai dari penyusunan skrip, rancangan alur, rancangan karakter / tokoh, pengeditan suara, dll. Wajar film animasi berteknologi 3D ini membutuhkan waktu yang lama sampai pada tahap produksi. Proses pembuatan film ini saja membutuhkan kebersamaan yang amat besar agar bisa selesai dan menarik untuk ditonton, bagaimana tidak film ini juga bercerita tentang persahabatan, menghormati orang yang lebih tua, dan menghormati orang yang berbeda ras dan agama.
Sekian pendapat saya mengenai film animasi 3D Geng Upin & Ipin. Terima kasih.
I'm curious to this (read more)...

Monday, February 14, 2011

Hari Valentine

Sejarah Hari Valentine cukup banyak.. Ini adalah salah satunya.. :)

Asal mula hari Valentine tercipta pada jaman kerajaan Romawi. Menurut adat Romawi, 14 Februari adalah hari untuk menghormati Juno. Ia adalah ratu para dewa dewi Romawi. Rakyat Romawi juga menyebutnya sebagai dewi pernikahan. Di hari berikutnya, 15 Februari dimulailah perayaan 'Feast of Lupercalia.'
Pada masa itu, kehidupan belum seperti sekarang ini, para gadis dilarang berhubungan dengan para pria. Pada malam menjelang festival Lupercalia berlangsung, nama-nama para gadis ditulis di selembar kertas dan kemudian dimasukkan ke dalam gelas kaca. Nantinya para pria harus mengambil satu kertas yang berisikan nama seorang gadis yang akan menjadi teman kencannya di festival itu.
Tak jarang pasangan ini akhirnya saling jatuh cinta satu sama lain, berpacaran selama beberapa tahun sebelum akhirnya menikah. Dibawah pemerintahan Kaisar Claudius II, Romawi terlibat dalam peperangan. Claudius yang dijuluki si kaisar kejam kesulitan merekrut pemuda untuk memperkuat armada perangnya.
Ia yakin bahwa para pria Romawi enggan masuk tentara karena berat meninggalkan keluarga dan kekasihnya. Akhirnya ia memerintahkan untuk membatalkan semua pernikahan dan pertunangan di Romawi. Saint Valentine yang saat itu menjadi pendeta terkenal di Romawi menolak perintah ini.
Ia bersama Saint Marius secara sembunyi-sembunyi menikahkan para pasangan yang sedang jatuh cinta. Namun aksi mereka diketahui sang kaisar yang segera memerintahkan pengawalnya untuk menyeret dan memenggal pendeta baik hati tersebut.
Ia meninggal tepat pada hari keempat belas di bulan Februari pada tahun 270 Masehi. Saat itu rakyat Romawi telah mengenal Februari sebagai festival Lupercalia, tradisi untuk memuja para dewa. Dalam tradisi ini para pria diperbolehkan memilih gadis untuk pasangan sehari.
Dan karena Lupercalia mulai pada pertengahan bulan Februari, para pastor memilih nama Hari Santo Valentinus untuk menggantikan nama perayaan itu. Sejak itu mulailah para pria memilih gadis yang diinginkannya bertepatan pada hari Valentine.

"Where there is love there is life."
Mohandas Gandhi
I'm curious to this (read more)...

Saturday, February 12, 2011

Kesabaran

Di suatu sore, seorang anak datang kepada ayahnya yg sedang baca koran…

“Ayah, ayah” kata sang anak…

“Ada apa?” tanya sang ayah…..

“aku capek, sangat capek … aku capek karena aku belajar mati matian untuk mendapat nilai bagus sedang temanku bisa dapat nilai bagus dengan menyontek…aku mau menyontek saja! aku capek. sangat capek…

aku capek karena aku harus terus membantu ibu membersihkan rumah, sedang temanku punya pembantu, aku ingin kita punya pembantu saja! … aku capek, sangat capek …

aku cape karena aku harus menabung, sedang temanku bisa terus jajan tanpa harus menabung…aku ingin jajan terus! …

aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga lisanku untuk tidak menyakiti, sedang temanku enak saja berbicara sampai aku sakit hati…

aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga sikapku untuk menghormati teman teman ku, sedang teman temanku seenaknya saja bersikap kepada ku…

aku capek ayah, aku capek menahan diri…aku ingin seperti mereka…mereka terlihat senang, aku ingin bersikap seperti mereka ayah ! ..” sang anak pun mulai menangis…

Kemudian sang ayah hanya tersenyum dan mengelus kepala anaknya sambil berkata ” anakku ayo ikut ayah, ayah akan menunjukkan sesuatu kepadamu”, lalu sang ayah menarik tangan sang anak kemudian mereka menyusuri sebuah jalan yang sangat jelek, banyak duri, serangga, lumpur, dan ilalang… lalu sang anak pun mulai mengeluh ” ayah mau kemana kita?? aku tidak suka jalan ini, lihat sepatuku jadi kotor, kakiku luka karena tertusuk duri. badanku dikelilingi oleh serangga, berjalanpun susah krn ada banyak ilalang… aku benci jalan ini ayah” … sang ayah hanya diam.

Sampai akhirnya mereka sampai pada sebuah telaga yang sangat indah, airnya sangat segar, ada banyak kupu kupu, bunga bunga yang cantik, dan pepohonan yang rindang…

“Wwaaaah… tempat apa ini ayah? aku suka! aku suka tempat ini!” sang ayah hanya diam dan kemudian duduk di bawah pohon yang rindang beralaskan rerumputan hijau.

“Kemarilah anakku, ayo duduk di samping ayah” ujar sang ayah, lalu sang anak pun ikut duduk di samping ayahnya.

” Anakku, tahukah kau mengapa di sini begitu sepi? padahal tempat ini begitu indah…?”
” Tidak tahu ayah, memangnya kenapa?”
” Itu karena orang orang tidak mau menyusuri jalan yang jelek tadi, padahal mereka tau ada telaga di sini, tetapi mereka tidak bisa bersabar dalam menyusuri jalan itu”
” Ooh… berarti kita orang yang sabar ya yah? alhamdulillah”
” Nah, akhirnya kau mengerti”
” Mengerti apa? aku tidak mengerti”
” Anakku, butuh kesabaran dalam belajar, butuh kesabaran dalam bersikap baik, butuh kesabaran dalam kujujuran, butuh kesabaran dalam setiap kebaikan agar kita mendapat kemenangan, seperti jalan yang tadi… bukankah kau harus sabar saat ada duri melukai kakimu, kau harus sabar saat lumpur mengotori sepatumu, kau harus sabar melawati ilalang dan kau pun harus sabar saat dikelilingi serangga… dan akhirnya semuanya terbayar kan? ada telaga yang sangatt indah.. seandainya kau tidak sabar, apa yang kau dapat? kau tidak akan mendapat apa apa anakku, oleh karena itu bersabarlah anakku”
” Tapi ayah, tidak mudah untuk bersabar ”
” Aku tau, oleh karena itu ada ayah yang menggenggam tanganmu agar kau tetap kuat … begitu pula hidup, ada ayah dan ibu yang akan terus berada di sampingmu agar saat kau jatuh, kami bisa mengangkatmu, tapi… ingatlah anakku… ayah dan ibu tidak selamanya bisa mengangkatmu saat kau jatuh, suatu saat nanti, kau harus bisa berdiri sendiri… maka jangan pernah kau gantungkan hidupmu pada orang lain, jadilah dirimu sendiri… seorang pemuda muslim yang kuat, yang tetap tabah dan istiqomah karena ia tahu ada Allah di sampingnya… maka kau akan dapati dirimu tetap berjalan menyusuri kehidupan saat yang lain memutuskan untuk berhenti dan pulang… maka kau tau akhirnya kan?”

” Ya ayah, aku tau.. aku akan dapat surga yang indah yang lebih indah dari telaga ini … sekarang aku mengerti … terima kasih ayah , aku akan tegar saat yang lain terlempar ”

Sang ayah hanya tersenyum sambil menatap wajah anak kesayangannya.

 By Mery Lay via Beautiful Life

"Suatu saat nanti, kau harus bisa berdiri sendiri "
I'm curious to this (read more)...

Friday, February 11, 2011

Media Pembelajaran

"Internet!"  Inilah kata pertama yang muncul di benak saya ketika melihat atau mendengar kata "media pembelajaran" Tiada hari tanpa berhubungan dengan internet. Menurut saya, internet merupakan tempat yang paling cocok untuk belajar. Selain cepat, banyak informasi yang bisa kita dapatkan dari A sampai Z, walaupun.... informasi yang kita dapatkan itu belum tentu pasti kebenarannya. Kita harus pintar-pintar dalam menganalisis setiap informasi yang kita dapatkan dari internet. Kita juga dapat membaca berita dan majalah secara gratis dan tanpa harus berlangganan, serta informasi-informasi seperti perkiraan cuaca, kurs valuta asing sampai pada hal-hal yang berkaitan dengan perkembangan sosial, ekonomi, politik budaya, ilmu pengetahuan, dan teknologi.

Apa itu media pembelajaran?
Media berasal dari bahasa latin merupakan bentuk jamak dari “Medium” yang secara harfiah berarti “Perantara” atau “Pengantar” yaitu perantara atau pengantar sumber pesan dengan penerima pesan. Beberapa ahli memberikan definisi tentang media pembelajaran. Schramm (1977) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran.

 Adapun tujuan utama adanya media pelajaran adalah untuk membuat pelajar mengerti dan memahami pelajaran atau pengetahuan tersebut. Media pembelajaran tidak hanya melalui internet (komputer) atau alat-alat audio-visual yang dapat dilihat, didengar lainnya, tetapi juga dapat dilakukan sendiri (misalnya pengalaman) dan dari tingkah laku orang lain, serta segala media yang dapat membantu pelajar mengerti akan pengetahuan tersebut.

Apa saja media pembelajaran itu?
  1.  Bahan-bahan catatan atau membaca (suplementari materialis)
     Misalnya buku, komik, koran, majalah, bulletin, folder, periodikal dan pamflet, dan lain-lain.
  2. Alat-alat audio-visual, alat-alat yang tergolong ini seperti :
    1) Media pendidikan tanpa proyeksi, misalnya papan tulis, papan tempel, papan planel, bagan diagram, grafik, karton, komik, gambar.
    2) Media pendidikan pada tiga dimensi, misalnya pada benda asli dan benda tiruan contoh, diorama, boneka, dan lain-lain.
    3) Media yang menggunakan teknik atau masinal.
    Alat-alat yang tergolong dalam kategori ini meliputi film strip, film, radio, televisi, laboratorium elektro perkakas atau instruktif, ruang kelas otomotif, sistem interkomunikasi dan komputer
  3. Sumber-sumber masyarakat
    Berupa obyek-obyek, peninggalan sejarah, dokumentasi bahan-bahan masalah-masalah dan sebagainya
  4. Kumpulan benda-benda
    Berupa benda-benda yang dibawa dari masyarakat ke sekolah untuk dipelajari, misalnya potongan kaca, benih, bibit, bahan kimia, darah dan lain-lain
  5. Contoh-contoh kelakuan yang dicontohkan oleh guru
    Meliputi semua contoh kelakuan yang dipertunjukkan oleh guru waktu mengajar, misalnya dengan tangan, kaki, gerakan badan, mimik, dan lain-lain.
  6.  
Dari gambar (Cone of Experience) di atas ini dapat kita lihat rentang tingkat pengalaman dari yang konkrit ke abstrak, dimana semakin ke bawah kerucut tersebut mengimplikasikan semakin tepatnya metode pembelajaran tersebut.
    Referensi : Munir., (2008). Kurikulum Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi. Bandung : Alfabeta

                     http://www.duniaedukasi.net/2010/06/teknologi-pembelajaran.html
                     http://citraedukasi.blogspot.com/2008/12/media-pembelajaran.html
                     http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/12/konsep-media-pembelajaran/

    "An educated people can be easily governed"
    Frederick The Great 

    I'm curious to this (read more)...

    Penggunaan Email dan Blog

    Kelompok 19 :
    1.  Jilly Chandra ( 10-022 )
    2. Veronica ( 10-026 )
    3. Venti Ayu Wibawa ( 10-070 )
    4. Dede Suhendri ( 10-078 )

    Menurut pandangan kelompok kami, penggunaan email dan blog sesuai dengan psikologi pendidikan sangat membantu dalam pembelajaran khususnya pengenfisiensian waktu, misalnya diskusi antar kelompok yang biasanya harus dilakukan dengan tatap muka. Kini sudah bisa dilakukan melalui internet. Hasil diskusi juga bisa diserahkan kepada dosen pengampuh melalui email dan blog, sehingga tidak harus dating ke kampus hanya untuk mengumpulkan tugas. Selain itu, pengiriman tugas melalui email dan blog juga dapat membantu mengatasi masalah global warming karena mengurangi penggunaan kertas dan bahan bakar minyak untuk transportasi. 

    Penggunaan email dan blog sebagai media pembelajaran seperti yang tersebut di atas masih kurang diaplikasikan di kota Medan. Tidak semua sekolah telah difasilitasi dengan inet  sehingga pembelajaran dengan teknologi ini belum dapat diterapkan. Padahal di era globalisasi ini, penggunaan teknologi seperti email dan blog sangat penting dalam dunia psikologi pendidikan dan dunia pekerjaan. Oleh karena itu, psikologi pendidikan sudah seharusnya bersentuhan dengan teknologi ini, khususnya penggunaan email dan blog.

    Daftar Pustaka :
    Munir.2010.Kurikulum Berbasis Teknologi Informasi dan Ekonomi (Cetakan ke-2). Bandung: Alfabeta
     
    I'm curious to this (read more)...

    Wednesday, February 9, 2011

    Home-Schooling

    Pertanyaan pertama yang muncul ketika mendengar kata 'home-schooling' barangkali adalah "Mengapa home-schooling?" dan "Apa keuntungan dan kerugian home-schooling?"

    Berikut beberapa sebab orangtua atau anak-anak memilih home-schooling yang dapat dihimpun oleh saya :
    1. Anak-anak tidak cocok dengan lingkungan sekolah yang ada. Bahkan, ada anak-anak yang dianiaya di sekolah formal, sehingga orangtua lebih memilih home-schooling
    2. Perkerjaan orangtua yang menuntut lokasi yang berpindah-pindah. Anak-anak menjadi susah untuk beradaptasi dengan lingkungan sekolah formal karena situasi dan kondisi yang berubah dari waktu ke waktu dan teman-teman yang berubah-ubah
    3. Sangat cocok untuk anak-anak yang sangat sibuk, contoh : artis atau penyanyi yang harus berpindah-pindah lokasi shooting dan bernyanyi untuk penyanyi
    4. Anak yang sering sakit sehingga membuat dirinya absen dari kegiatan belajar-mengajar di kelas formal dan ketinggalan pelajaran
    5. Waktu untuk keluarga dan pergaulan lebih banyak dibandingkan keberadaan di sekolah formal. Selain itu, anak-anak menjadi punya waktu yang lebih untuk pengembangan bakat pribadi, misalnya belajar bahasa asing (yang tidak ada di sekolah formal), mengembangkan bakat menari, melukis, balet, dll anak
    6. Karakteristik anak yang tidak bisa duduk diam. Akan sulit bagi tipe anak dengan kecerdasan kinestetik (belajar dengan bergerak) untuk duduk diam di kelas formal mendengarkan pelajaran
    7. Home-schooler (orang yang mengikuti home-schooling) dapat memilih kurikulum yang diinginkan dan sesuai dengan keinginannya.
     Kerugian home-schooling :
    1. Anak mungkin menjadi tidak mempunyai teman atau sahabat, karena home-schooling dilakukan antar individu antara anak dengan tutornya (tidak ada teman untuk belajar bersama)
    2. Ijazah dari pemerintah (Indonesia) adalah ijazah hasil ujian paket C (sehingga tidak dapat masuk ke beberapa jenis perguruan tinggi)
    3. Untuk anak yang kurang disiplin, home-schooling akan susah berhasil
    Apakah home-schooling resmi di Indonesia?
    Saat ini, home-schooler dapat mengikuti ujian paket C dari departemen pendidikan. Untuk anak-anak yang hendak mengikuti sekolah formal dari home-schooling dapat mengikuti ujian penyetaraan yang dilaksanakan oleh departemen pendidikan di lokasi yang ditetapkan oleh departemen pendidikan di daerahnya.
    Misalnya, anak SD yang hendak melanjutkan pendidikan formal ke jenjang SMP, ia dapat mengikuti ujian penyetaraan setingkat SD dan mendapatkan ijazah SD untuk melanjutkan pendidikan jenjang SMP.

    Apakah biaya home-schooling besar?
    Biaya home-schooling sesuai pilihan home-schooler. Ada yang mahal ada juga yang murah bahkan ada yang gratis (hanya membayar biaya buku). Home-schooling bisa berupa tatap muka dengan tutor atau melalui internet.


    Dari manakah tutor home-schooling mendapatkan kurikulum-kurikulum yang sesuai untuk home-scholler?
    Tutor home-schooler dapat memperoleh bahan-bahan untuk home-schooler dari berbagai sarana yang ada seperti : perpustakaan, internet, galeri, museum, departemen pendidikan, TAFE, universitas, organisasi relawan,dll.

    Di Indonesia, sudah mulai banyak orangtua memilih home-schooling untuk anak-anaknya. Bahkan ahli-ahli mengenai pendidikan anak dan keluarga, seperti Seto Mulyadi, Neno Warisman, Ratna Megawangi, Septi Peni Wulandari (penemu Metode Jarimatika) dsb.
    Namun sayangnya...... home-schooling belum ada di MEDAN.. :D Sekian posting dari saya, semoga dapat membantu dan menambah wawasan, pengetahuan, dan pengertian Anda. Terima kasih.. :)
    NB : Home-schooling tersedia di kota-kota di Indonesia seperti : Jakarta, Banten, Surabaya, Balik papan,dan beberapa daerah lain yang mungkin saya tidak tahu.

    Refrensi :
    http://sheilabanun.blogspot.com/2008/01/jatuh-cinta-pada-homeschooling.html
    http://www.homeschoolingindonesia.com/


    "Children have to be educated, but they have also to be left to educate themselves. "
    Ernest Dimnet
    I'm curious to this (read more)...

    Wednesday, February 2, 2011

    Anak-anak bisa stress juga looohh...

    Pernahkah Anda mendengar keluhan rekan-rekan atau teman-teman Anda mengeluh, "stress kalilah aku" atau "capek kalilah otakku" dan sejenisnya? Tentu tidak asing lagi, bukan? Nah, bagaimana dengan anak-anak? Pernahkan Anda nmendengar anak-anak mengeluh bahwa dirinya stress? Ternyata anak-anak juga bisa STRESS!

    Apa gejala stress pada anak-anak?
    Anak-anak tidak dapat menceritakan masalahnya sebagaimana orang dewasa, tidak juga mengetahui masalah yang sedang terjadi pada mereka. Jadi, orang dewasa, terutama orang tua dan gurulah yang harus bisa memahami stress pada anak-anak. Gejala stress pada anak-anak umumnya :  
    1. Gejala Fisik, misalnya anak yang sudah tidak mengompol tiba-tiba jadi mengompol lagi
    2. Gejala Emosi, misalnya anak yang semula sudah berani ke sekolah sendiri tiba-tiba jadi takut dan minta ditemani ibunya, sering marah-marah dan menangis, sering berbohong, bersikap kasar terhadap teman atau anggota keluarga yang lebih kecil, suka melanggar dan memberontak terhadap aturan-aturan, serta sering bereaksi secara berlebihan terhadap masalah-masalah kecil.
    3. Gejala Kognitif, misalnya malas, tidak mampu berkonsentrasi dan sulit menyelesaikan pekerjaan atau tugas-tugas sekolah, suka melamun dan menyendiri dalam waktu yang lama.
    4. Gejala Tingkah laku, misalnya anak yang sudah bisa berbicara lancar tiba-tiba berbicara seperti bayi atau anak lebih kecil.
    Apa penyebab stress pada anak-anak?
     Dapat berupa :
    •  Faktor internal : kemampuan fisik dan kesiapan mental
    Rasa sakit yang berkepanjangan dapat menyebabkan anak stress. Ada anak-anak yang sulit beradaptasi dengan cuaca dan iklim yang berubah-ubah, sehingga menyebabkan stress pada dirinya.
    • Faktor eksternal : lingkungan di rumah, sekolah atau lingkungan bermain
    Di rumah, situasi keluarga sangat mempengaruhi kondisi kejiwaan anak, misalnya ada yang orang tuanya bertengkar, berantam, cerai,dll membuat si anak tidak dapat menerimanya sehingga menyebabkan stress.
    Di sekolah, misalnya perkerjaan rumah yang terlalu banyak, bahan pelajaran yang terlalu banyak, yang sesuai dengan kemampuan si anak.
    Di lingkungan bermain juga anak-anak bisa stress. Misalnya ketika bermusuhan dengan teman yang membuat dirinya tertekan.

    Bagaimana mencegah hal-hal tersebut diatas terjadi?
    Berikut beberapa tips untuk mencegah stress pada anak-anak :
    1. Memperbanyak waktu untuk berkomunikasi dengan anak
    2. Bersikap terbuka terhadap anak, memberitahu hal-hal yang akan terjadi dalam keluarga sehingga anak memiliki persiapan mental untuk menghadapinya, misalnya bahwa akan ada adik dalam keluarga, akan pindah rumah, dll
    3. Jangan membebani anak dengan masalah yang dihadapi orang dewasa atau orang tua
    4. Jangan membebani anak dengan tuntutan yang terlalu banyak dan berlebihan, misalnya harus menjadi juara kelas,harus mendapat nilai istimewa dalam semua ujian,dll.
    Dalam sekolah (psikologi pendidikan), guru sangat berperan dalam perkembangan murid-muridnya. Guru harus dapat menyusun kurikulum atau rencana pengajaran sesuai dengan kemampuan murid-muridnya, tidak memberikan terlalu banyak tugas, tidak terlalu memaksa anak-anak untuk belajar, membuat proses belajar anak-anak nyaman, sehingga anak menikmatinya dan otomatis tidak akan stress. Dengan kata lain, seorang guru harus dapat mengajar efektif (lihat posting sebelumnya).


    Refrensi :
    http://kesehatan.kompas.com/read/2009/02/18/17122021/mengenali.stres.pada.anak
    http://niahidayati.net/mengatasi-stres-pada-anak.html
    Santrock John W.Psikologi Pendidikan,edisi kedua. 2004.University of Texas at Dallas.

    "What we think, we become.
    I'm curious to this (read more)...

    Psikologi Pendidikan : Perangkat untuk Mengajar Secara Efektif

    Psikologi Pendidikan adalah cabang ilmu psikologi yang khusus pada pemahaman pengajaran dan pembelajaran dalam lingkungan.

    Histori psikologi pendidikan
    3 tokoh terkemuka pada masa awal perkembangan psikologi pendidikan :
    ·         - William James
    ·         - John Dewey
    ·         - E. L. Thorndike
    Ketiga tokoh berkulit putih diatas adalah tokoh yang paling menonjol pada masa awal perkembangan psikologi pendidikan, sedangkan yang berkulit hitam hanya sedikit yang berhasil lolos dari diskriminasi rasial, mendapat gelar dan melakukan riset dalam  bidang ini sebelum adanya undang-undang hak sipil . Mamie dan Kenneth adalah 2 tokoh Amerika keturunan Afrika yang menonjol, melakukan riset tentang identitas dan konsep diri anak-anak Afrika-Amerika.
    Kaum perempuan pada awal masa perkembangan psikologi pendidikan juga merasakan diskriminasi gender, dimana kaum perempuan sulit untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi. Akibatnya mereka lambat dalam mendapatkan pengakuan atas kontribusi terhadap riset psikologis.
    Pendekatan Throndike digunakan sebagai panduan bagi psikologi pendidikan di paruh abad ke-20. Pandangan behavioral oleh B.F.Skinner (didasarkan pada ide-ide Thorndike) sangat mempengaruhi psikologi pendidikan pada pertengahan abad ke-20. Baik pendekatan behavorial maupun pendekatan kognitif oleh James dan Dewey masih digunakan sampai sekarang. Selama beberapa dekade terakhir abad ke-20 psikologi pendidikan juga memperhatikan aspek sosioemosional dari kehidupan murid.

    Mengajar : Seni dan Ilmu Pengetahuan
    Sebagai sebuah ilmu, tujuan psikologi pendidikan adalah member pengetahuan riset yang dapat diaplikasikan secara efektif untuk situasi belajar. Namun, para ahli psikologi pendidikan mengakui bahwa mengajar terkadang harus mengabaikan saran-saran ilmiah, tetapi menggunakan improvisasi dan spontanitas.

    Cara Mengajar yang Efektif
    Perlu ditekankan bahwa TIDAK ADA cara tunggal untuk mengajar secara efektif karena mengajar adalah hal yang sangat kompleks dan murid-murid sangat bervariasi. Jadi, seorang guru harus menguasai berbagai perspektif dah stratergi serta fleksibel dalam mengajar. Artinya, guru harus dapat menyesuaikan teknik mengajarnya sesuai dengan situasi dan kondisi murid dan lingkungan. Untuk itu, ada 2 hal utama yang harus dimiliki seorang guru:
    1. Pengetahuan dan keahlian profesional
        Guru yang efektif :
    • Menguasai materi pelajaran : pengetahuan tidak hanya sebatas pada buku, mengetahui fenomena-fenomena yang sedang terjadi berkaitan dengan topik bahasan
    • Stratergi pengajaran : konstruktivisme (pendekatan pembelajaran yang menuntut individu aktif membangun pemahaman dan pengetahuan
    • Penetapan tujuan dan keahlian perencanaan instruksional : tujuan topik bahasan jelas dan memaksimalkan waktu belajar murid dengan pertimbangan menantang dan menarik bagi murid untuk dipelajari
    • Keahlian manajemen kelas : membuat suasana belajar yang nyaman dan kondusif
    • Keahlian motivasional : stratergi untuk membuat murid tertarik untuk belajar
    • Keahlian komunikasi : kemampuan memahami bahasa baik verbal maupun non verbal murid dan berinteraksi dengan orang tua murid dengan gaya bicara yang tidak pasif
    • Bekerja secara efektif dengan latar belakang murid yang berbeda-beda : mampu mengorganisir murid-murid dari latar belakang kultural yang beraneka ragam saling memahami, menghormati dan menerima sesamanya
    • Keahlian teknologi : guru harus up-to-date. Satu-satunya caranya adalah mengenal dunia internet (teknologi) dan mengajarkan murid untuk memanfaatkan teknologi tersebut.

    2. Komitmen dan motivasi
        Tentu tidak mudah untuk dapat menjadi guru yang efektif. Awal merupakan langkah yang paling sulit. Oleh karena itu, perlu komitmen dan motivasi untuk dapat mengajar efektif. Guru harus dapat menciptakan suasana belajar yang menarik dan nyaman bagi murid-muridnya, memotivasi diri sendiri sehingga mengalirkan energi-energi positif pada murid-muridnya sehingga mereka pun termotivasi untuk belajar, memahami dan mengajarkan murid-muridnya untuk memahami perasaan sesamanya. Dan yang paling penting adalah guru itu sendiri dapat menciptakan citra baik di mata murid-muridnya sehingga dapat menjadi motivasi untuk belajar.

    Pernahkah Anda menyangkal sebuah informasi? Tentu pernah,kan?
    Nah, untuk menelusuri perbedaan pendapat Anda dengan orang lainlah dilakukan riset.

    Riset atau penelitian sering dideskripsikan sebagai suatu proses investigasi yang dilakukan dengan aktif, tekun, dan sistimatik, yang bertujuan untuk menemukan, menginterpretasikan, dan merevisi fakta-fakta.

    Metode riset dalam psikologi pedidikan :
    1.      Riset Deskriptif : mengamati dan mencatat perilaku
    2.    Riset Korelasional : mendeskripsikan kekuatan hubungan antara dua atau lebih kejadian atau karakteristik
    3.      Riset Eksperimental : menentukan faktor-faktor terjadinya suatu perilaku
    4.      Riset cross-sectional : data dikumpulkan dalam satu waktu
    5.     Riset longitudinal : individu yang sama dipelajari dalam kurun waktu tertentu, biasanya bertahun-tahun.

    Beberapa metode di atas adalah metode-metode umum, ada juga metode khusus dalam melakukan riset :
    1.      Riset evaluasi program : membuat keputusan tentang efektivitas suatu program
    2.     Riset aksi : memecahkan problem kelas / sekolah spesifik, memperbaiki stratergi mengajar dan pendidikan, atau membuat keputusan pada lokasi tertentu
    3.      Guru sebagai-Periset : meningkatkan praktik mengajar guru sebagai-Periset tersebut.

    Tantangan riset :
    1.      Etika : Ahli psikologi pendidikan harus berhati-hati dalam memastikan kesehatan dan keamanan anak yang berpartisipasi dalam studi riset
    2.     Gender : Banyak pakar gender percaya bahwa banyak pendidikan dan riset mengandung bias gender
    3.      Etnis dan Kultur : anak etnis minoritas diabaikan dalam riset atau sekadar dianggap sebagai variasi dari norma atau kelaziman.

    Jadilah konsumen yang bijak tentang psikologi pendidikan dengan cara : 
    • Berhati-hati dengan apa yang dilaporkan di media populer
    • Ketahui cara meghindar dari membuat kesimpulan tentang kebutuhan individu berdasarkan riset kelompok
    • Kenali gampangnya membuat generalisasi yang berlebihan untuk sampel yang kecil / sampel klinis
    • Berhati-hati karena satu studi tunggal tidak menghasilkan kesimpulan final
    • Ingat bahwa kesimpulan sebab-akibat tidak dapat diambil dari studi korelasional
    • Selalu memperhatikan sumber informasi dan evaluasi kredibilitasnya.
                    http://en.wikipedia.org/wiki/Edward_Thorndike
                    http://en.wikipedia.org/wiki/Mamie_Clark
                    http://en.wikipedia.org/wiki/Research
                  Santrock John W.Psikologi Pendidikan,edisi kedua. 2004.University of Texas at Dallas.


    "A jug fills drop by drop." 

    I'm curious to this (read more)...

    Wednesday, January 26, 2011

    Tentang diriku dan Psikologii USU.. (我和苏北大学的心理学)

    Hi! Salam kenal.. Saya sedang mencoba bercerita sedikit tentang diriku.. (hope u enjoy it..hehe)
    Saya lahir di Medan (tepatnya di RS Rosiva,hihi) dan... masih tinggal di Medan juga sih sampe skrg.. :D
    Saya anak kedua dr 2 bersaudara.. jd bisa dibilang sih rumahku sepi tiap hari.. toh cm ber4 serumah dan semua pd sibuk sndr.. Teman mainku di rumah ya benda mati semua.. haha 

    Oy, yg disamping ini fotoku and bro dulu.. XD
    Nah, toeng toeng toeng jdlah saya yg skrg.. 
    Ini nih crita gimana namaku bisa sangkut di Fakultas Psikologi USU tahun 2010.. haha

     Awalnya sih saya sukanya kimia, tp gak dikasi ortu buat ambil kuliah teknik kimia, ya cari alt lain deh.. gak kepikiran jg seh mau ambil psikologi,karna waktu itu juga gak tau apa itu 'psikologi'..haha
    Then, kenapa bisa pilih Psikologi? Singkat sih jawabnya, karna cita2ku hanya bisa terwujud kalo uda belajar Psikologi.. :D Sebenarnya prosesnya masih panjang sih.. tapi kacian yg baca panjang2 kali (sebenarnya juga karna cape cerita.. wkwk)... jadi yah.. cukup sampe disini dl deh.. hehehehe

    And... the next posting will be no more basa basi.. It will be about Psychology..
    At last but not least, I have to say thanks to our lecturer, Mrs. Filia Dina that support e-learning and this is why I have this blog. Go e-learning! I support it much. I have waited for it long time ago and finally it can be actualized. Go e-learning! Go!
    oiya.. jgn lupa leave comment yah.. baik ttg design blog ini ato apaaa gitu... :))

     "Education is a gold mine that never runs out of gold"
    I'm curious to this (read more)...